1962–1963
<strong>Bermula dari Keprihatinan dan Sebuah Rumah Kontrakan</strong><br/>Sebelum tahun 1963, Desa Getaspejaten belum memiliki lembaga pendidikan formal yang mengajarkan ajaran Islam. Melihat situasi tersebut, dua tokoh bersaudara yaitu Kyai Nasyrah Sardjono dan Ustadz Zaeni Sardjono merasa prihatin. Apalagi, saat itu ada sebuah gedung sekolah kosong di pekarangan makam Mbah Cinde yang telantar dan mulai rusak.<br/><br/>Melalui serangkaian musyawarah yang dimulai pada pertengahan Desember 1962, para tokoh Islam setempat sepakat mendirikan madrasah. Nama "Al Tanbih" pun dipilih, yang memiliki arti membangunkan, membangkitkan, dan memperingatkan.<br/><br/>Rencana awal menggunakan gedung kosong di makam Mbah Cinde batal karena adanya tuntutan kepengurusan makam yang tidak disepakati. Akhirnya, Bapak Abdul Hamid selaku bendahara dengan ikhlas meminjamkan rumah kontrakannya yang belum ditempati untuk dijadikan tempat belajar sementara. Pada 9 Maret 1963, madrasah ini resmi memulai hari pertamanya dengan 37 murid Ibtidaiyah dan 94 murid Diniyah.
1966–1968
<strong>Pindah Gedung dan Ujian "Seleksi Alam"</strong><br/>Setelah beberapa tahun menumpang di rumah kontrakan, pada tahun 1966 MI Al Tanbih resmi pindah ke gedung baru berlantai dua dari papan kayu yang dibangun di komplek Masjid Al Fatah.<br/><br/>Karena sekolah ini tegas menentang hal-hal berbau takhayul, bidah, dan khurafat, mereka sempat mendapat komentar miring dari sebagian masyarakat sekitar. Selain tantangan sosial, krisis ekonomi parah di era 1960-an serta ketatnya sistem Ujian Negara membuat angkatan pertama mengalami seleksi alam. Dari 37 murid awal, hanya 5 murid yang berhasil bertahan dan lulus pada tahun 1968. Namun, kelulusan 5 alumni pertama ini sukses membuktikan kualitas MI Al Tanbih hingga akhirnya mulai diperhitungkan dan dipercaya oleh masyarakat luas.
1988–2002
<strong>Membuka Babak Baru Bersama Muhammadiyah</strong><br/>Untuk menjamin hukum sekolah, pada 8 September 1988 dibentuklah Yayasan Pendidikan Al Tanbih (yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Islamiyah Al Tanbih).<br/><br/>Seiring adanya aturan undang-undang yayasan yang baru dari pemerintah pada tahun 2001, pengurus yayasan mengadakan rapat dan sepakat untuk membubarkan yayasan tersebut. Demi masa depan sekolah, seluruh aset berupa tanah, masjid, dan bangunan madrasah resmi diserahkan kepada persyarikatan Muhammadiyah pada 12 Oktober 2002. Sejak saat itulah namanya berganti menjadi MI Muhammadiyah Al Tanbih.
Pemimpin
<strong>Kiprah Para Pemimpin dari Masa ke Masa</strong><br/>Kemajuan MI Muhammadiyah Al Tanbih tidak lepas dari dedikasi para kepala madrasah yang hebat:<br/><ul><li><strong>Bapak Abdul Halim Sardjono (1963–2004)</strong>: Pemimpin pertama yang berhasil mengawal alumni angkatan pertama dan membawa sekolah meraih berbagai prestasi membanggakan di tingkat kecamatan hingga karesidenan.</li><li><strong>Bapak Suyanto, S.Ag (Periode Pertama: 2003–2011)</strong>: Mengawal masa transisi sekolah bergabung ke Muhammadiyah, merintis program full day school secara bertahap, dan memusatkan kegiatan belajar mengajar di gedung baru sebelah selatan.</li><li><strong>Ibu Chotimatul Mardliyah, S.Pd (2012–2020)</strong>: Menerapkan program full day secara utuh, membuka kelas paralel karena minat murid yang melonjak tajam, mengesahkan sertifikat wakaf sekolah, hingga membawa siswa mengikuti program Student Exchange ke Malaysia pada tahun 2017.</li><li><strong>Bapak Suyanto, S.Ag, M.Pd.I (Periode Kedua: 2020–Sekarang)</strong>: Berhasil memimpin sekolah melewati masa sulit pandemi COVID-19 lewat pembelajaran daring yang kreatif, fokus pada pengembangan digitalisasi media sosial, meningkatkan jumlah kelas menjadi 20 lokal, hingga total murid mencapai 540 anak pada tahun ajaran 2025/2026.</li></ul>
Hari Ini
<strong>MI Muhammadiyah Al Tanbih Hari Ini</strong><br/>Kini, sekolah ini telah bertransformasi menjadi madrasah yang modern dan unggul dengan Akreditasi A sejak tahun 2023. Selain fasilitasnya yang lengkap (seperti kelas ber-AC dengan TV smart, lab komputer, dan perpustakaan digital), sekolah ini juga memiliki program unggulan yang keren. Di antaranya adalah pembelajaran berbasis Sosial Emosional Siswa (SES) yang bekerja sama dengan Djarum Foundation, penguatan tahfidz juz 30, serta pembentukan karakter lingkungan lewat program "JUMPA BERSAHABAT".